menguping percakapan di Artjog 8

June 18, 2015

Bulan ini memang bulan-bulannya seniman bangun dari hibernasinya. Ya enggak sih.. nggak gitu sih. Saya juga bukan seniman sih jadi ya nggak tau sebenernya. Asal sok tau aja lah. Hahaha. Tapi yang jelas bulan ini ada beberapa acara dan pameran seni besar di Jogja. Salah satunya, tentu saja, adalah Art Jogja atau Artjog.

Saya sendiri memang suka melihat pameran seni. Walaupun jujur saja saya juga sering nggak paham dengan pesan yang ingin disampaikan si seniman dalam karya seninya, tapi saya senang melihat karya-karya orang lain. Melihat karya seni seperti itu membuat saya juga ingin membuat sesuatu.

Beberapa hari yang lalu saya datang ke Artjog bersama 3 teman saya. Walaupun kami datang berempat, tapi akhirnya di dalam Artjog kami berpisah-pisah karena tenggelam dalam minat dan kepentingan masing-masing. Suasana Artjog waktu itu sangat ramai padahal kami datang di hari kerja, siang pula.

Masuk ke Artjog saya melihat banyak orang yang membawa kamera-kamera besar alias DSLR. Banyak juga orang yang berdandan rapi dan cantik. Saya ingat baru beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali datang ke Artjog suasananya sangat berbeda. Waktu itu Artjog masih sepi dan orang-orang hanya mengandalkan kamera handphone untuk mengabadikan karya disana. Sekarang ada banyak karya yang boleh dipegang dan bisa diajak berinteraksi. Karena itu pasti banyak orang yang datang untuk berfoto bersama karya.

Saya pun kembali ke kepentingan utama saya yaitu untuk melihat-lihat karya. Ketika saya sedang melihat salah satu karya di sana, saya mendengar percakapan menarik dari 2 orang yang tiba-tiba muncul di sebelah saya. Karya yang saat itu saya lihat adalah sebuah miniatur karya Dea Aulia Widyaevan dengan penampakan seperti ini:


dan keterangan seperti ini:


Karya ini berangkat dari persoalan degradasi nilai dalam sebuah kota. Kota Bandung mengalami sebuah anomali saat identitas tidak lagi berasal pada sebuah catatan sejarah. Hal ini ditunjukkan melalui konsidi pusat kota, kini menjadi agen kapital. Pada karya ini, sebuah miniatur alun-alun Bandung tahun 1930an diluruhkan dengan air sebagai simbol waktu. Peristiwa peluruhan ini bersifat performatif dari hari kehari, sebagai ungkapan satir tentang memori kota yang hilang.

Saya baru selesai membaca keterangan itu ketika ada 2 orang tiba-tiba berdiri di sebelah saya. Sebut saja orang A & B. Saya pun tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka.

A: "Eh! lihat deh sebelah sini bagus nih! fotoin aku disini dong!"
B: *sambil membawa DSLR* "Boleh-boleh! cahayanya bagus dari sini nih."
A: *berpose* *peace* *merentangkan tangan* "Gimana? aneh nggak hasilnya?"
B: "Enggak kok dah bagus nih. Gantian dong fotoin aku juga!"
A: *mengambil kamera si B, memotret B yang sedang asyik berpose*
B: "Udah.. nggak aneh kan?"
A: "Bagus kok tenang,,"

Setelah puas berfoto-foto, mereka pun melihat karya yang baru saja mereka ajak berfoto.

B: "Ini apa sih? kok ada air-airnya gini."
A: "Gatau deh.. eh ini  kok gini sih, remuk gini bangunannya"
B: "Eh iya juga kok ancur gitu ya? yaampun.. kayaknya ini gara-gara dipegang orang deh"
A: "Parah emang orang-orang tu nggak bisa diatur banget ya, jelas-jelas itu ada tanda do not touchnya. Masih aja ada gitu yang iseng banget pengen pegang. Jadi ancur gini kan karyanya. Gimana sih nggak ngertiin perasaan senimannya banget."
B: "Ckckck payah ah orang-orang sembarangan ngancurin karya."
A: "Hmm yaudah yuk biarin aja, kita cabut aja daripada dikirain kita yang ngerusakin."
B: "Ayok, kita belum foto di sebelah sana tuh!" *menunjuk sebuah karya*

Setelah itu mereka berdua pun pergi berfoto di karya yang lain.

Sementara saya disitu cukup ternganga dan ingin tertawa.

Bhay.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe