gagang pintu paling pengertian

May 28, 2014

Posting ini berawal dari suatu siang yang agak mendung tapi sumuk di suatu tempat paling gaul di Jogja. Yah sebenernya nggak gaul-gaul amat sih tapi ya saya lumayan sering ada di situ, seminggu sekali lah paling enggak. Kok malah curhat. 

Lanjut yak.
Yak.

Nah sebelumnya, saya mendedikasikan posting ini untuk teman-teman sebaya para pejuang semester 4 komunikasi ugm yang sedang dilanda tsunami tugas. asek. semoga posting ini bisa mencerahkan pagi, siang, sore, atau malam (kapan pun kalian membaca ini atau nggak baca pun juga gapapa semoga tetap cerah) indah kalian. 

Jadi balik lagi ke awal tadi, suatu siang yang sumuk itu saya sedang berada di ruangan ber-AC jadi nggak ya nggak sumuk-sumuk banget sebenernya. Karena ruang itu dingin, saya duduknya di karpet lesehan gitu, dan kebetulan saya habis minum banyak banget air putih, saja jadi kebelet pips. Beranjaklah saya dari karpet merah nan nyaman tersebut untuk pergi ke toilet.

Oiya biar lebih bisa dibayangkan, untuk sampai ke toilet itu sebelumnya saya harus keluar dari ruang ber-AC tersebut kemudian melewati sebuah tempat outdoor yang panas baru bisa meraih toilet.

Kemudian saya berasa tersambar petir ketika keluar dari ruangan dingin itu. Alangkah kagetnya melihat gagang pintu ruangan itu. Betapa bijaknya si gagang pintu ini. Dia mengingatkan saya mengenai satu hal. Begini tulisan yang ada di gagang tersebut:


Seakan dihujani kenyataan, si gagang seakan berteriak "cape lo!" pada saya. Sesaat saya sadar. Iya gang, saya emang cape

Gagang ini memang gagang yang paling mengerti saya. Saya agaknya saya butuh leren sejenak dari memikirkan tugas-tugas yang berserakan ini. Begitu juga dengan kalian, teman-teman. Gagang sudah menurunkan nasihatnya. Leren-lah sejenak, dan sadari bahwa gagang tersebut benar dan katakan...... iya, saya emang cape.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe